logo

Saturday 05th of June 2010




mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
Kami memiliki 3 Tamu online

Home
Berita JPL
berita jpl
Read 0 Comments... >>

Stop Perdagangan Ilegal Satwa Liar Melalui Jalur Sosialisasi Media PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh koensetyawan   
Senin, 24 Mei 2010 03:03
Perdagangan satwa liar umumnya  terjadi karena adanya hasrat manusia untuk memiliki. Dwi Nugroho Adhiasto, dari Wildlife Conservation Society (WCS) secara gamblang  menuturkan perdagangan illegal satwa liar di Indonesia pada Obrolan Sabtu Seru 17 April 2010 lalu.

Dwi menegaskan bahwa 80% satwa liar di pasar  burung berasal dari alam dan hasil perburuan illegal. Minimal 4 ton gading telah beredar illegal dalam empat tahun terakhir di Sumatra Bagian Selatan. Dan sedikitnya 2.000 ekor trenggiling diekspor illegal per bulan sejak 2002.  Akibat  perdagangan illegal ini, Indonesia mengalami kerugian sebesar Rp. 9 triliun/tahun (PHKA, 2009).

Lantas bagaimana membunuh hasrat tersebut?

“Dari sisi LSM, sudah banyak dilakukan kampanye tentang dampak negatif kalau tidak ada satwa liar tersebut, tetapi sepertinya masyarakat masih belum peduli akan isu tersebut. Mungkin berbagai kampanye tersebut perlu melibatkan berbagai kalangan untuk mendukungnya”, jelas Dwi Nugroho di depan peserta Obrolan Sabtu Seru.

Burung dan primata adalah satwa liar favorit dalam perdagangan gelap satwa liar hidup.  Produk (bagian tubuh) dari mammalia dan reptilia juga paling sering dijumpai dalam perdagangan gelap. Perdagangan ini terjadi karena “demand & supply” yang tinggi.

Bagaimana cara mencukupi permintaan akan kebutuhan tersebut? 

Salah satu caranya adalah melalui penangkaran.  Namun, tidak semua satwa yang diperdagangkan dan dikonsumi bisa dengan mudah bisa dikembangbiakkan di penangkaran. Misalnya saja, badak, harimau dan gajah.

Dan perburuan satwa liar illegal tersebut bisa diminimalkan dengan adanya quota tangkap, seperti jatah menangkap dan ekspor dibatasi. Saat ini tak bisa mendapatkan angka quota tangkap yang tetap, ini bisa saja disebabkan karena berkurangnya populasi satwa tersebut di alam atau memang sudah tidak ada sama sekali.

Meningkatnya permintaan pasar dan perdagangan satwa liar ini tentu berkaitan erat dengan pemberitaan di media massa. Wicaksono dari Tempo Interaktif yang hadir pada Obrolan Sabtu Seru menyambung benang merah tentang perdagangan tersebut.

Lantas bagaimana dengan komitmen media massa dalam mewartakan isu lingkungan?

Wicaksono pun menjawab bahwa tidak banyak media cetak yang komitmen dan peduli dengan lingkungan. Kecuali National Geographic Indonesia. Majalah Tempo pun hanya dua halaman saja setiap minggunya. Isi berita dalam media massa amat bergantung pada minat masyarakat, karena ada kepentingan bisnis dan ekonomi di dalamnya.

Hal yang sering terjadi adalah pihak LSM kurang kreatif dalam membungkus informasi yang dilontarkannya. Terlalu ilmiah dan penuh angka yang “tidak berarti apa-apa”. Angka kerugian negara sebesar Rp. 9 triliun/tahun akibat perdagangan illegal tersebut itu tidak berarti apa-apa bagi pembaca. Lain halnya bila disebutkan bila akibat perdagangan illegal tersebut Indonesia gagal membangun berapa ribu bangunan sekolah dan rumah sakit (yang nilainya setara dengan Rp. 9 triliun).

Mungkin bisa juga dipakai beberapa shoot tentang perburuan satwa, hal ini lebih dapat menyentuh perhatian pemirsa/pembaca, karena sesungguhnya saat ini masyarakat kita lebih mudah tergerak oleh pemberitaan yang sifatnya menyedihkan.

Hindari juga menggunakan bahasa yang terlalu ilmiah atau istilah teknis yang menyebabkan masyarakat susah mencerna isi pesan yang akan disampaikan.

Ada pertanyaan menarik, bagaimana LSM dapat mengontrol isi berita yang akan diwartakan sebelum diterbitkan, karena terkadang isinya agak berbeda dengan informasi/data yang sudah diberikan?

“Bisa jadi ada dua kemungkinan, adanya penyampaian info yang tidak jelas dan adanya sudut pengambilan cerita oleh wartawan. Biasanya wartawan akan membuat cerita yang terkait dengan isu baru, yang memiliki dampak luas terhadap masyarakat. Tapi benar, bahwa keakuratan data itu penting,” jelas Wicaksono.

Sebetulnya bila LSM ingin agar informasinya diwartakan, mana lebih efektif, press release atau pendekatan pribadi dengan staf media massa?

“Press release itu metode tahun 70-an dalam menyebarkan informasi. Sekarang sudah banyak sekali media/saluran komunikasi (facebook, tweeter, blog, plurk, website, dll.), manfaatkan semua saluran komunikasi tersebut untuk menyebarkan informasi. Tempatkan semua pesan di semua kerumunan, sehingga media massa “terkepung” oleh informasi yang ingin kita sampaikan” saran Wicaksono, “dengan demikian media massa akan mewartakan informasi yang dianggap penting tersebut” tambahnya.

Istilah kampanye “low cost high impact” juga terlontar dari mulut Wicaksono. Contohnya, secara visual bisa menitipkan video melalui situs youtube, misalnya, hal ini memberikan pengaruh positif bagi negara pemberi dana. Internet juga efektif untuk kampanye dan bisa dikombinasikan dengan mengirimkan SMS untuk mengumpulkan info, lalu disebarkan di internet. Tingkatkan kreatif di zaman internet untuk mencapai hasil yang maksimal.[irma dana & jeni shannaz]

 


Read 0 Comments... >>
LAST_UPDATED2
 
ESD In Practise PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh koensetyawan   
Senin, 24 Mei 2010 02:33

Peserta pelatihan

Tujuan utama Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan adalah bahwa setiap orang harus mendapatkan pengetahuan dan merasa termotivasi untuk bekerja seiring dengan masa depan yang berkelanjutan.  Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan termasuk beragam proses yang mempromosikan pengetahuan, keterampilan, nilai, dan tingkah laku yang mempengaruhi individu, sekolah, dan usaha masyarakat dalam menciptakan masyarakat yang adil dan terbuka, memiliki keamanan ekonomi, memiliki kapasitas ekologis yang memadai, dan demokratis. Dengan latar belakang serupa, WWF Indonesia mengadakan TOT  tentang Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan. Training of trainers (TOT) dilaksanakan di  PPLH (Pusat Pendidikan Lingkungan), Trawas, Mojokerto, Jawa Timur pada tanggal 5 hingga 7 April 2010. Pelatihan ini diikuti oleh 32 peserta yang terdiri atas staf WWF Indonesia (12 orang) dan anggota JPL (Jaringan Pendidikan Lingkungan).

TOT ini memberikan pembekalan dasar tentang Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan. Peserta diharapkan dapat menindaklanjuti hasil pelatihan dengan mengembangkan ESD di wilayahnya masing-masing karena setiap wilayah memiliki karakteristik yang berbeda. Pelatihan dimulai dengan materi perubahan iklim, konsep pembangunan berkelanjutan hingga pengenalan Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan. Materi ini meliputi pengenalan jejak ekologis (Ecological footprint) hingga bagaimana mengimplementasikan ESD dalam pendidikan di berbagai tingkatan. Selain materi kelas, pelatihan  ini juga mengajak peserta melakukan serangkaian permainan antara lain bekerja dengan metafora, mengamati kehidupan dalam botol, kapal ruang angkasa dan mendesain kincir angin. Pada hari terakhir diisi dengan kegiatan di luar kelas, antara lain melihat dengan hidung, meraba, perjalanan seekor semut, dan daerah tangkapan. Bagaimana mengintegrasikan tema lokal dan mengaplikasikan pendekatan sekolah secara menyeluruh menjadi materi di hari terakhir.


Read 0 Comments... >>
LAST_UPDATED2
 
Hutan, dari sekelumit telisik akan “kejatuhan” manusia di bumi PDF Cetak E-mail
Penilaian Pengunjung: / 1
TerjelekTerbaik 
Ditulis oleh koensetyawan   
Jumat, 16 April 2010 09:08
Manusia turun ke bumi sebagai pengemban titah suci,. Sakral memang terasa amanat ini, dalam suatu lingkup dimensi spiritual. Dalam risalah Qur’an malaikat sempat memprotes diciptakanya manusia. “Manusia adalah mahkluk pembuat mala” kira-kira seperti itu malaikat berkata. Memang manusia jadi tercipta dan “terlempar “ ke bumi sebagai konsekwansi ulahnya sendiri, konon karena tidak kuat akan godaan melenakan dari iblis.

Bumi sebelum kehadiran mahkluk ini adalah ekosistem yang koheren, di mana keterjalinan setiap elemennya adalah desain yang “sempurna”. Hutan, sungai, laut dan gunung adalah “tata” dengan getar takzim yang selalu menyebutNya dengan frekuensi yang kita sulit untuk menginsafi. Bagitulah yang agung itu memenuhi bumi. Setelah “kejatuhan” manusia memang menjadi lain. “Laku” baru hadir dengan ritual dan alur yang tidak biasa.  Akal, dimensi asing, karena manusia saja yang memiliki, adalah anugerah sekaligus senjata, perangkat mengkonstruksi sekaligus mendekonstruksi apapun itu “tata” yang kurang atau dianggap tidak selaras. Barangkat dari sistem ini, sebenarnya represi terhadap alam sedang dimulai, laku dengan antroposentris tengah diperagakan hingga ribuan tahun. Ketegangan tercipta antara jumlah manusia yang terus meningkat dan sumberdaya alam yang terbatas.

Barangkali ketegangan di atas, ada semacam arus yang mencemaskan setiap masa, setiap alam berbicara lain kepada kita, dengan geletar yang menyebabkan derita. Bencana. Problem ini mengisyaratkan banyak hal yang harus direvisi akan dimensi “penerimaan” manusia itu sendiri, penerimaan akan yang terbatas baik yang ada pada diri sendiri atau yang dapat dipenuhi bumi. Kita menjadi sadar atau tidak akan hal-ikhwal seperi ini, itu adalah pilihan.

Setiap persentuhan kita dengan detik yang berdetak adalah implementasi dari pilihan hidup yang kita jalani. Tepat pada waktu kita tengah menjalani prosesi itu, kita membutuhkan faktor-faktor eksternal, dimensi yang mau tidak mau kita dapat dari lingkungan yang memadai, udara yang bersih, makanan yang sealamiah mungkin. Barangkali  dari posisi ini ada yang perlu direnung ulang akan eksistensi kedirian, yang, ternyata hadir dan tidak bisa secara sendiri eksis secara penuh. Dari sinilah menciptakan ekomenis yang paling ideal dan lestari adalah pilihan yang tidak bisa dielakkan.

Barangkali peran itulah yang sering dimainkan hutan tapi sering dilupakan sebagai sistem penunjang eksistensi yang semesta, sebuah konstruksi primordial dan purbawi. Bisa jadi “siklus” atau apapun itu yang berjalin kelindan untuk menganggit yang dinamis seperti mengalir tanpa henti dan belantara rimba adalah orkestra yang bermain di sana. Ia mendendangkan harmoni sebuah simfoni yang menyentuh wilayah manusia yang paling abadi. Barangkali. (  Fatkurrahman Abdul Karim)

Sumber berita: Peka Indonesia Foundation


Read 4 Comments... >>
LAST_UPDATED2
 
Liputan Nonton Bareng dan Ngobrol tentang Sungai Citarum PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh koensetyawan   
Rabu, 14 April 2010 03:32
Oleh: Piki, Staf YPBB
 
"Saya pikir kita semua sudah tahu apa penyebab dari semua bencana ini. Sekarang, apa yang bisa kita lakukan sebagai individu untuk mencegahnya." Kata salah seorang peserta di acara nonton bersama yang diadakan di sekretariat Walhi Jabar pada Jumat, 26 Maret 2010. Film yang diputar kali ini berjudul “Airku, Hidupku” sebuah film dokumentasi perjalanan yang disutradarai oleh Indrasitas, yang merekam dinamika Sungai Citarum, dan aktivitas kehidupan di sekitar sungai terpanjang di Jawa Barat ini.

Citarum kini telah menjadi isu nasional. Banjir yang belakangan melanda kota-kota yang berada di DAS Citarum ditetapkan sebagai bencana nasional dengan status siaga, terkait dengan isu bocornya bendungan Jatilihur. Peserta memahami bahwa masalah banjir yang melanda DAS Citarum tidak dapat diselesaikan dengan cara pintas dengan memperbaiki infrastruktur saja. Ada hal-hal lain yang juga sangat penting dan harus dilakukan bersamaan, yaitu pengelolaan DAS, terutama daerah resapan yang menahan sebagian besar volume air yang kini membanjiri badan Citarum setiap musim hujan.
Diskusi dalam acara yang dihadiri oleh kurang lebih 15 peserta ini, diwarnai pemikiran mengenai lambatnya respons terhadap bencana DAS Citarum dan fokus pemerintah yang selalu berkonsentrasi pada penyelesaian masalah dengan pembangunan infrastruktur.  Kompleksnya permasalah di sekitar bencana yang terjadi di Citarum menuntut penyelesaian yang tidak mudah. Karena banyak pihak yang terlibat dalam masalah di Citarum, maka peran banyak pihak, termasuk setiap individu, untuk menyelesaikan masalah Citarum menjadi prasyarat utama.
Lalu apa yang bisa kita lakukan sebagai individu untuk mengurangi resiko banjir? Menurut David, direktur YPBB yang turut hadir dalam acara tersebut, kita bisa mengusahakan agar tidak ada air larian yang keluar dari rumah kita, atau dengan kata lain kita tahan semua air hujan yang masuk ke areal rumah kita. Hal ini bisa diupayakan dengan membuat lubang-lubang biopori, juga menampung air hujan yang jatuh di genting rumah. Apakah usaha-usaha ini sudah cukup menjadi solusi? Tentu saja tidak. Solusi yang paling logis dari permasalahan banjir adalah menjaga kualitas hutan di bagian hulu sungai. Dan ini bukan tugas pemerintah dan masyarakat hulu sungai saja, tapi tugas kita semua sebagai makhluk penikmat air bersih. [piki]

NB: Nontong bareng berikutnya akan dilakukan pada 9 April 2010, pukul 16:00 - 18:00 di Kantor Walhi Jabar.
 
Untuk informasi silakan kunjungi:
 


Read 4 Comments... >>
LAST_UPDATED2
 
Loka-Latih Pengembangan Indikator Konsep Kolaborasi Education for Sustainable development dan Education for Global Citizenship PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh koensetyawan   
Minggu, 11 April 2010 06:54

Pada tanggal 29 Maret / siang – 31 Maret malam bertempat di Pusat Pendidikan Alam dan Budaya Kaliandra Sejati, Prigen, Kab. Pasuruan, dilaksanakan Loka-Latih Pengembangan Indikator Konsep Kolaborasi Education for Sustainable development dan Education for Global Citizenship di Indonesia. Program ini terlaksana atas kerjasama antara Organisasi Benih Matahari (BIMA) dan Jaringan Pendidikan Lingkungan (JPL). Latar belakang dilaksanakan loka latih adalah karena setelah 4 tahun masa berlakukan DESD, masih sedikit LSM di Indonesia yang memahami dan mengikuti perkembangan ESD dan menggunakan ESD sebagai acuan untuk penerapan di lapangan. Di sisi lain, Indonesia yang memiliki banyak kearifan dan pengetahuan lokal dari berbagai budaya, yang sebenarnya memiliki perspektif ESD. Sangatlah penting untuk kita mengangkat sebagian identitas lokal Indonesia yang sebenarnya telah memiliki perspektif global. untuk memperkecil kesenjangan ketertinggalan kita terhadap perkembangan di tingkat Internasional, penting kita mengkolaborasikan konsep ESD dan EGC, serta membuat indikator konsep ESD - EGC, sehingga bisa mengukur program yang berjalan mengacu pada konsep tersebut atau tidak. Pelatihan ini akan difasilitasi oleh Robert Steele dari Systainability of Asia.
Loka latih bertujuan melakukan kolaborasi konsep dan kerangka kerja ESD – EGC untuk Indonesia, pembuatan indikator untuk mengukur aspek kolaborasi ESD – EGC, serta identifikasi strategi yang efektif untuk menerjemahkan konsep ESD – EGC ke kondisi lokal masing-masing. Selain pelatihan di ruangan, peserta juga melakukan field trip melihat berbagai aktivitas di Kaliandra Sejati yang berkaitan langsung dengan pengembangan ESD antara lain kegiatan pengelolaan sampah, daur ulang kertas, biogas, pengolahan air limbah, peternakan sapi, perkebunan sayuran, wisata, seni budaya dan pendidikan lingkungan hidup.

Waktu tiga hari nampaknya belum cukup untuk menyusun indikator yang khas Indonesia. Waktu pelatihan hanya sampai pada pengumpulan bahan-bahan indikator yang harus ditajamkan kembali di pertemuan selanjutnya karena indikator yang dihasilkan belum menukik tajam sesuai lokalitas yang diharapkan. Kesenjangan pengetahuan peserta akan konsep ESD – EGC juga menjadi masalah tersendiri sehingga dirasa perlu memanfaatkan satu sesi untuk mereview ulang konsep ESD. Peserta pelatihan sepakat untuk menjadi working group pengembangan indikator ESD – EGC. Untuk sementara komunikasi dilakukan secara online difasilitasi oleh mailing list dan Website Jaringan Pendidikan Lingkungan. Pada akhir sesi loka latih, peserta dari Kehati (Rina Kusuma) memaparkan sedikit rencana kegiatan tahun Keanekaragaman Hayati Indonesia. Sedangkan pihak JPL mempresentasikan desain besar pengembangan ESD di Indonesia dengan mengajak peserta loka latih terlibat aktif dalam berbagai kegiatan yang direncanakan dalam desain besar tersebut.
 


Read 3 Comments... >>
LAST_UPDATED2
 
« MulaiSebelumnya12345BerikutnyaAkhir »

Halaman 1 dari 5
Share on facebook


This site Copyright © 2009 by: Jaringan Pendidikan Lingkungan.
Support by: